Latihan Kepemimpinan Lanjutan (LKL) 2024

Surabaya, 27 Juli 2024 – Universitas Hang Tuah (UHT) menggelar kegiatan Latihan Kepemimpinan Lanjutan (LKL) yang bertujuan untuk membentuk karakter kepemimpinan mahasiswa. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari 27-28 Juli 2024 diadakan di berbagai lokasi dalam kampus UHT.

Dalam sambutannya Budi Priyono, S.Sos., M.M menyampaikan, pada latihan kepemimpinan yang disiapkan dan akan dilaksanakan adalah tipe Kepemimpinan Adaptif, Kolaboratif dan Efektif yang dilanjutkan Aksi Eksekusi dengan model kedisiplinan semi militer.  Untuk menyiapkan  ke level yang lebih tinggi.
Lebih lanjut beliau mengatakan, PATRICIA PATTON, seorang konsultan profesional, menuliskan: “It took a heart, soul and brains to lead a people”. Dari sana terlihat bahwa seorang pemimpin harus memiliki perasaan, keutuhan jiwa dan kemampuan intelektual. Artinya, “modal” yang harus dimiliki tidak hanya intektualitas semata, namun harus didukung kecerdasan emosional (emotional intelligence), komitmen pribadi dan integritas yang dibutuhkan untuk mengatasi tantangan. Seringkali kegagalan disebabkan oleh  emosional seorang pemimpin birokrasi yang tidak dapat memahami dirinya dan orang lain. Sehingga keputusan yang diambil hanya menguntungkan birokrasi, dan cenderung egois. Dampaknya seperti umumnya organisasi birokrasi di Indonesia, high profilebut low benefit!
Buku tentang kepemimpinan yang melayani (servant leadership) ditulis oleh Dr. Kenneth Blanchard, berjudul Leadership by the Book yang mengisahkan tiga karakter yang mewakili tiga aspek kepemimpinan melayani yang dipersonifikasikan oleh “pendeta, profesor, dan professional”. Tiga karakter tersebut adalah HATI yang melayani (servant HEART), KEPALA atau PIKIRAN yang melayani (servant HEAD), dan TANGAN yang melayani (servant HANDS).

SEGALA formula kepemimpinan tidaklah bermakna bila faktor keteladanan diabaikan. Seorang pemimpin wajib mengedepankan keteladanan dengan menjalankan leadership by example. Bukankah saripati kepemimpinan adalah “memandu jalan dan membawa orang lain ke tujuan bersama”

Apakah seorang pemimpin dapat memandu, manakala ia sendiri berjalan dalam kegelapan visi, melangkah dengan kelemahan karakter, dan bergerak maju tanpa kacamata strategi yang tepat? Bagaimana membawa orang lain ke tujuan bersama, jika ia sendiri pun tidak mampu memberikan contoh dan keteladanan yang bisa ditiru? Seorang Pemimpin-Peneladan, harus memiliki integritas dan komitmen yang kuat untuk memimpin secara benar, jujur dan arif.

Oleh karena itu Setiap kegiatan Mahasiswa wajib menghormati sesama Mahasiswa, yang diwujudkan dalam bentuk      antara lain: Kegiatan kemahasiswaan diselenggarakan dengan prinsip kemandirian, etis, edukatif, religious, humanis, kerjasama, peduli lingkungan dan berwawasan global. Menjalani hubungan beradab dan bermartabat, dengan tidak melakukan perbuatan yang melanggar norma akademik dan kemahasiswaan; Memegang teguh dan menghormati hak kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik; Menghayati dasar-dasar bermasyarakat dalam lingkungan Institut, dan membangun, memelihara, serta mengembangkan hidup bermasyarakat di dalam kampus yang multikultur Menjunjung tinggi, menghormati dan saling toleransi atas keberadaan organisasi kemahasiswaan yang ada di Universitas Hang Tuah.

Dari uraian tersebut, kiranya dapat disarikan, bahwa implementasi konsep “Memimpin dengan Aksi”, memerlukan perpaduan tiga elemen kompetensi kepemimpinan, yaitu karakter, metoda dan perilaku kepemimpinan, agar bisa efektif menjalankan program aksi. Keteladanan kepemimpinan, dengan leadership by example, atau action oriented, di mana pemimpin juga ikut terlibat sebagai work-leader dalam program aksi. Selain karakter kepemimpinan, masih diperlukan dukungan political will, agar program aksi mencapai sasaran, karena visi bukan sekedar dokumen mati.

Dalam rangka menyiapkan kader pemimpinan yang mumpuni yang selalu mengikuti perkembangan zaman sesuai kreteria diatas maka lembaga pendidikan tinggi yang berorientasi kemaritiman seperti Universitas Hang Tuah ini sangat konsen untuk menyiapkan kader-kader pemimpin masa depan melalui tahapan-tahapan pelatihan dimulai dengan Prodamaba, Latihan Dasar Kepemimpinan  dan dilanjutkan Latihan Kepeimpinan lanjutan seperti yang kita lakukan pada hari ini.

Setelah upacara pembukaan, acara dilanjutkan di Gedung Graha Samudra Ganesha (GSG) dengan pemberian materi latihan. Materi pertama latihan oleh Drs. S. Teguh Wiyono, MAP yang membawakan materi tentang “Kepemimpinan.” Dalam materi ini, Teguh Wiyono menjelaskan tentang pentingnya kepemimpinan yang efektif dan etis dalam kehidupan mahasiswa serta bagaimana memimpin dengan integritas dan visi.

Setelah itu, materi kedua disampaikan oleh Budi Priyono, S.Sos dengan judul “Etika Mahasiswa.” Budi Priyono menekankan pentingnya etika dalam kehidupan akademik dan sosial mahasiswa, serta bagaimana etika yang baik dapat meningkatkan kualitas diri dan hubungan dengan orang lain.

Di hari kedua dimulai dengan persiapan di depan Fakultas Farmasi yang dilanjutkan dengan apel pagi di lapangan futsal. Peserta juga mendapatkan materi tentang Peraturan Baris-Berbaris (PBB) dan yel-yel, yang bertujuan untuk meningkatkan kedisiplinan dan semangat kebersamaan di antara peserta.

Setelah itu, para peserta kembali ke Gedung GSG untuk menerima materi LKL dari Dr. Windah Riskasari, S.Psi., M.Psi, Psikolog. Materi yang disampaikan berjudul “Leadership,” di mana Dr. Windah menjelaskan konsep kepemimpinan dari perspektif psikologis, termasuk pentingnya empati, komunikasi efektif, dan pengambilan keputusan yang bijaksana.

Dalam materinya, Dr. Windah menekankan beberapa poin penting tentang aksi berkelanjutan dalam kepemimpinan: Mengkaji Tugas: Seorang pemimpin harus secara terus-menerus mengkaji dan mengevaluasi tugas yang ada untuk memastikan bahwa mereka sesuai dengan tujuan dan visi organisasi. Ini melibatkan pemahaman mendalam tentang peran dan tanggung jawab setiap anggota tim serta bagaimana kontribusi mereka mempengaruhi keseluruhan hasil. Luwes: Fleksibilitas adalah kunci dalam kepemimpinan. Seorang pemimpin harus mampu menyesuaikan diri dengan berbagai situasi dan tantangan yang muncul, serta mampu mengubah strategi jika diperlukan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Modifikasi Gaya: Kepemimpinan tidak bersifat statis. Pemimpin harus mampu mengubah gaya kepemimpinan mereka sesuai dengan kebutuhan tim dan situasi. Ini termasuk memahami kapan harus mengambil pendekatan yang lebih otoriter atau demokratis, dan kapan harus mendengarkan atau memberi instruksi. Peningkatan Kemampuan Pengetahuan dan Keterampilan: Seorang pemimpin yang baik selalu berusaha untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka. Ini mencakup pendidikan berkelanjutan, pelatihan, dan pembelajaran dari pengalaman sehari-hari.

Selain itu, Dr. Windah juga menekankan pentingnya sikap anti toleran terhadap perundungan dan kekerasan seksual. Seorang pemimpin harus menjadi teladan dalam menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif, di mana setiap individu merasa dihargai dan dilindungi.

Dr. Windah menutup materinya dengan menegaskan bahwa “Leadership is action, not position.” Kepemimpinan bukanlah tentang jabatan atau posisi yang dipegang, melainkan tentang tindakan nyata dan keberlanjutan dalam upaya membawa perubahan positif bagi tim dan organisasi.

Acara kemudian dilanjutkan dengan permainan outdoor yang melibatkan lima peleton (25 orang per peleton). Setiap peleton dibagi menjadi dua kelompok (A dan B) dan harus menjalani permainan di lima pos secara bergiliran, yaitu pos GSG, pos FKG, pos Farmasi, pos Bengkel FTIK, dan pos Fisip. Kegiatan ini bertujuan untuk menguji kemampuan kerjasama, strategi, dan kepemimpinan para peserta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *